Di Pojokan itu

Untuk Kamu No Comments »

Seringkali di saat sendiri, diantara suara daun-daun kering di pojok salah satu sudut kantin belakang kampus, sambil menikmati secangkir kopi, rokok, dan tatapan matahari yang perlahan memerah, aku seringkali tersenyum sendiri.

Dan seringkali, senyuman tanpa sadar lewat saja, berlalu saja…..seiring ingatanku kepadamu.

15 Tips Agar Tidak Bete di Dalam Lift

Tips And Trik 2 Comments »

1. Ketika anda hanya berdua dengan orang tak dikenal, colek bahunya! Kemudian anda pura-pura melihat ke tempat lain..

2. Tekan tombol lift kemudian anda pura-pura kesetrum. Tersenyumlah, lalu….. ulangi lagi.

3. Pasanglah muka menyeringai kesakitan sambil memegangi kepala anda dan mengumpat: Diam, semuanya diam!.

4. Gunakan HP anda untuk telpon ke Psikolog sambil bertanya apakah dia tahu di lantai berapa anda sekarang ?

5. Bawalah kamera dan ambillah gambar semua orang yang ada di dalam lift.

6. Pindahkan meja kerja anda ke dalam lift. Jika ada yang masuk, tanyakan apakah mereka sudah membuat janji?

7. Bentangkan papan catur di lantai lift dan ajaklah orang-orang, barangkali ada yang mau main.

8. Letakkan sebuah bungkusan di pojok, jika ada yang masuk, tanyakan apakah mereka mendengar suara tik…tik…tik…

9. Anda pura-pura jadi pramugari! Tunjukkan prosedur keselamatan penerbangan seperti di dalam pesawat terbang.

10. Ketika pintu menutup, beri pengumuman kepada orang-orang. Tenang, jangan panik, nanti pasti terbuka lagi koq!.

11. Bukalah tas anda, sambil melihat ke dalam tas, tanyalah: Udaranya cukup nggak disitu?

12. Diam dan jangan bergerak sama sekali di pojok lift, menghadap dinding, jangan pernah keluar.

13. Bawalah wayang golek atau wayang kulit, gunakan wayang itu untuk ngobrol dengan orang di dekat anda.

14. Dengarkan suara di dinding lift dengan stetoskop.

15. Buatlah garis di lantai sekeliling anda menggunakan kapur, lalu bilang: Ini adalah wilayah SAYA

Majalah Bobo Berasal dari Belanda?

Uncategorized No Comments »

Baru aja buka wikipedia, iseng tulis kata bobo…

Waks!! baru tau kalo bobo, majalah kesayangan saya selama ini, ternyata berasal dari BELANDA!! cek link nya disini

Sex and The City and Me

Untuk Aku No Comments »

Baru aja pulang dari pasar ulekan, the best! kenapa? karena di pasar ini saya bisa berjam-jam lamanya menghabiskan waktu tuk lebih banyak menyubang dengan rela ke pembajak Indonesia. Why? soalnya, disini numpuk DVD BAJAKAN MURAH! Rp. 20.000,- 5pcs, setidaknya itu harga yang dikasih tunjuk ke saya. Walau lebel DVD Bajakan sangat rancu disini, “Udah Ori (Original-pen) pak,” begitu sang penjual berkomentar. (You know-lah what I mean)

Hancook, Mamima, X-Files, HellBoy2, Sex and The City!, Indiana Jones berhasil pindah ke salah satu sudut lemari di ruang kerja saya. Tampak lebih penuh, Damn!! saya harus beli lemari baru nih.

Saya pulang, dengan bertanya-tanya di atas motor jepang saya. “Buat istrinya Pak?” begitu sang penjual bertanya saat hasil bajak-membajak itu masuk ke plastik hitam yang sudah cukup berkurang keberadaanya akibat desakan Greenpeace.

Tak saya jawab saat itu. Untuk apapula menjawabnya. Istri saya bukan movie freak seperti suaminya. Tapi tak anyal, pertanyaan itu mengganggu saya.

Apa karena seorang laki-laki (saya masih seorang laki kan?) jadi tak boleh membeli dan menonton Sex and The City? Penjual DVD Sialan. Besok-sbesok pindah toko!!

Bandung, 09 November 2008

Kambing hitam itu mirip kamu…

Untuk Kamu No Comments »

Rasanya sudah begitu sering saya dengar, “menulis itu gampang”. Tapi ternyata mendengar, melihat, merasakan, tidak sebegitu sulit dibanding melakukan. Contohnya sekarang, saya mencoba menuliskan gelisah hati. Tapi setelah berpuluhan menit lamanya mata ini melotot kaku dan jari telah bergetar memaksa untuk bergerak. Hasilnya? Nol. Kosong.

Setelah saya pikir lagi. Saya begitu suka menulis tentang kamu. Entahlah. Mungkin rasa itu begitu besar sehingga jari dan mata ini begitu kompak menari saat itu. Tidak seperti sekarang. Padahal kemarin-kemarin begitu banyak keinginan yang bertaburan untuk di keluarkan dalam memoar. Ujung-ujungnya saya hanya bisa mencari kambing hitam karena ketidak mampuan saya menulis lagi. Sebuah jalan bagi pengecut begitu kata orang-orang dongengkan. Dan bukan sengaja saya memilih kambing yang rupanya mirip kamu (mungkin terlalu cantik jika ada kambing berwarna hitam mirip dengan tampangmu, atau bahakan mengerikan ya?).

Yah, karena kamu aku tak bisa lagi bisa menulis. Kamu tau kan, kalo aku begitu suka menulis segala hal yang kuanggap menarik, yang kusuka, yang begitu gegap gempita sehingga tak bisa lagi ku tahan dan juga tak bisa kuceritakan secara oral. Lalu menulis membuatku bisa berkata apa yang tak bisa kukata. Dan belakangan ini, kamu nongkorong begitu saja di imajiku. Yah, aku menyalahkanmu.

Kamu membuatku tak bisa menulis lagi (dengan gampang). Sungguh aku menyalahkanmu.

Bandung, 8 November 2008

Catatan Hari itu

Just For Fun, Religion, Untuk Aku, Untuk Kamu No Comments »

Hujan turun lagi sore hari, malam ini akan dingin seperti kemarin. Menuju parkiran saya berlari kecil. Tas punggung berlebelkan eiger yang saya bawa terasa begitu ringan. Mungkin hanya Tuhan dan saya yang mengerti mengapa saya begitu menyukai merek itu. Sebuah romansa. Dan menit berikutnya ditengah hujan yang tak begitu deras, diatas motor jepang berlindungkan ponco biru, saya kembali menusuri jalanan. Begini saja rupanya. Kehidupan ini sudah kembali menjadi misteri, setelah beberapa bulan lalu berusaha saya tebak rupa dan arahnya. Benar kiranya Tuhan bicara dengan bahasanya sendiri.

Hujan mulai terlihat semakin tak ramah lagi. Waktu sudah jam lima lebih. Ah, saya ingin segera sampai di depan rumah hari ini. Semalam, Raka tak begitu nyenyak terlelap. Setiap satu jam sekali menangis, dan itu artinya mata harus tetap terjaga, dan tenaga harus dikerja lemburkan untuk memangku dan menidurkannya kembali. Ibunya, istriku, tertidus pulas semalam. Dua butir Tuzalos, obat flu yang hanya bisa didapat di apotik tanpa resep dokter, telah ditelannya sesaat sebelum tidur. Tak bisa diganggu rupanya. Saya ingin segera tiba dirumah saat ini, tapi sebuah janji dengan seniman tua harus memanggil. Sudah cukup lama janji itu terucap. Hari ini juga harus saya tepati.

Sepeda motor jepang yang saya kendarai kubelokan ke kanan. Ah, didepan sana kuhapal betul. Toko buku diskon, Toga Mas. Saya menyukai kesana. Sudah lebih dua bulan saya tidak membeli buku lagi. Mungkin sepulangnya saya akan mampir. Persimpangan lampu merah samping telkom, belok lagi kekiri, kiri satu kali lagi, lalu lurus menuju taman makam pahlawan, mentok, lalu kiri lagi. Sudah hapir sampai. Di depan pagar rumahnya saya lihat seniman tua itu beridiri lalu tersenyum. “Sampai juga, kukira kau tak jadi datang” katanya ramah. “kopi?” ia menawarkan setelah saya berusaha melepaskan ponco biru basah dengan cukup tergesa-gesa. Tentu saja tawaran semenarik ini tak kuasa saya tolak. Sebatang sigaret, secangkir hangat kopi,  dan seorang teman lama. Lengkap sudah.

Tak lama kukira, namun waktu sudah begitu akrabnya menyapa. Sudah lebih dari 3 jam saya dengannya bertukar kata di studio samping rumahnya. Dan kami berdua tau, seperti yang kami perdebatkan lama dulu, perpisahan adalah sebuah awal pertemuan yang ditunggu. Saya pamit, hujan tak lagi turun. Dan benar kiranya, malam ini dingin seperti kemarin.

Sepeda motor jepang, itu kembali menyapa hangat dinginnya aspal. Saya menyukai sangat perjalanan di atas sepeda motor, sendirian, sehabis hujan dimalam hari. Begitu damai. Malam in bandung tak begitu ramai. Cukup sepi malah.  Ah… satu lagi tempat yang harus kuhampiri. Black and White Kafe. Setidaknya sedikit browsing atau sekedarnya membuka email, friendster, facebook, deviant, bisa kulakukan disana.

Pelataran parkir kafe ini cukup renggang. Saya menaiki tangga menuju lantai dua. Disana lebih nyaman. Setidaknya lebih tenang. Di sudut tangga, saya lihat empat tamu sedang asik dengan urusannya. Dua laki-laki dan dua perempuan. Masih kuliah.

Orang yang ditunggu belum juga tiba, saya memesan teh manis hangat dan satu bungkus Dji Samsoe Filter. Coba untuk menghubungi,  saya buka maibox di handphone saya. Entahlah, rasanya ada yang aneh dengan nomer saya. Biasanya dalam cuaca seperti ini. Susah sekali untuk menghubungi saya dinomer yang satu ini. Dan benar saja, setelah sedikit mengumpat, sebuah pesan masuk.

“fan, bsk sy br tiba. hr ini cancel.” Tertulis jam 16.02. Shitt!! Sekarang jm 21.20 dan baru saja saya terima.

Sudahlah saya sudah terlanjur memesan teh hangat. Malam ini dingin dan sendiri di kafe tidak begitu mengasikkan. Saya khusuk di depan laptop. Buka friendster, facebook, dan sedikit mengintip Newwebpick sambil mendengarkan mp3 dari Winamp. Teringat lagi telefon tadi pagi. Dari Bony. Marah-marah dia rupanya. Marah karena beberapa kali menelfonku tak juga diangkat. Marah karena sidang sarjananya tak juga kuhadiri. Maaf sobat, tapi aroma kental rutinitas membuatku lupa sahabat sejati seperti dirimu. Sepertinya saya tak pantas mengakut sahabat. Tapi bukan itu yang menggangguku malam ini. Sebuah nama menjadi salah satu pembicaraan kami. Yup.. miss u bro. Kutulis saja singkat di agendaku begitu telfonku terputus untuk kedua kalinya dengan Bony tadi pagi, “contact dodo, segera!”. Apa kabarmu sobat? Tak kuasa saya mendengar kisahmu.

Ah, mengingatnya, Ari Widodo, membuatku merindukan masa lalu. Unpad, Jatinangor, Damri, Bukit belakang sekolah, dan tentusaja Mustika Biru begitu saja berlintasan di anganku malam ini. Salah satu kisah yang tak terlupakan dari hidupku.

Nia-nya The Panas Dalam (saya lebih suka menulisnya dengan Nie A. dan melafaskannya dengan Nia sesuai keinginan The Panas Dalam) mengalun setelah dua lagu dari She, Mencoba Mencintai Mu dan Selingkuh Sekali Saja. Saya tersenyum membaca inbox yang masuk. Darinya. Lelah yang mendera tak lagi dirasa. Email itu singkat. Tapi saya menyukainya dan membacanya berulang-ulang.

Tuhan.. aku ingin segera pulang malam ini.

Bandung, 7  November 2008

Tak usah mencoba mengerti !!!

Untuk Aku, Untuk Kamu No Comments »

aku tak pernah mengeti kamu. begitulah.. dia bilang padaku suatu saat di suatu tempat, dulu. tapi aku suka. memangnya kau pikir aku mengerti kamu selama ini? memangnya aku memahami setiap perkataan dan tingkah lakumu?

Yang kutau, aku hanya ingin bersamamu. menghabiskan waktu. karna kau menceriakan hariku. karna (mungkin) aku menyayangimu dan (juga mungkin) kau pun demikian.tak penting rasanya bagaimana kau mencoba mengerti aku, atau aku mencoba mengerti aku.

Mungkin kita bisa lebih memahami satu sama lain, jika saja kita tidak sibuk untuk mencoba mengartikan segalanya dengan kata-kata.

Bandung, 04 Okt 2008

Iya! aku cemburu

Untuk Kamu No Comments »

Iya!
Aku cemburu!
Haruskah aku mengatakannya baru kau sadari?
Haruskah aku berteriak di wajahmu agar kau tahu?
Haruskah aku menangis di hadapanmu agar kau mengerti?

Iya!
Aku cemburu!
Tidakkah kau bisa membacanya dari diamku?
Tidakkah kau bisa memaknai arti perbuatanmu?
Tidakkah kau bisa merasakan bila ada di posisiku?

Iya!
Aku cemburu!
Lalu apa?

Akankah kau berubah bila kusampaikan?

Iya! Aku cemburu! (puaskah kau kini???)

(dari catatan istri ku)

belum tidur …

Untuk Kamu No Comments »

Apakah kita sudah tak membiarkan jarak menghalangi
hingga kau mengerti aku dan aku pun mengerti kau
bukan sesaat …tapi selalu di hati
kita selalu kehabisan kata kata saat saling menatap
mungkin malu ..mungkin saja ..

Hanya Sebatas Dunia Maya

Untuk Kamu No Comments »

biarlah matahari menyinari bumi
biarlah bulan menerangi malam
biarlah gugusan bintang menari
biarlah gelap malam menjadi kelam

cinta tak bisa di bohongi
dan cinta tak bisa berbohong
simpan cinta itu dalam-dalam
biarlah kita berdua yang tau

miss u


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in